BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Permasalahan
Mengingat perkembangan kognitif mempunyai
peranan penting bagi remaja karena sebagian besar aktivitas dalam belajar
selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berpikir. perkembangan kognitif
(atau intelektual) adalah perkembanganpikiran bagian dari otak yang dipakai
untuk memahami, mengetahui, menalar serta mengenai sesuatu. Kognitif sebagai
kapasitas kemampuan berfikir dan segala bentuk pengenalan, digunakan individu
untuk melakukan interaksi dengan lingkungannya.Perkembangan kognitif terjadi
melalui suatu proses yang disebut dengan adaptasi. Adaptasi merupakan penyesuaian
terhadap tuntutan lingkungan dan intelektual melalui dua hal yaitu asimilasi
dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses anak dalam menafsirkan pengalaman
barunya yang didasarkan pada inteprestasi dunia anak prasekolah. Akomodasi
merupakan aspek kedua dari adaptasi, individu berusaha untuk menyesuaikan
proses adaptasi dengan sejumlah pengalaman baru, misalnya seorang anak
prasekolah mencoba memegang bola besar, akomodasi akan terjadi ketika anak
mengenali bahwa bola tersebut lebih besar dari pada mainan yang biasa
dimainkannya pada saat proses adaptasi.
Masa remaja disebut juga masa untuk
menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas banyak
dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau
identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan
mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan
terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang
sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum
terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun
sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru
dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali
terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya
Remaja
yang berkembang baik kepribadiannya, salah satu tugas perkembangan yang harus
dikuasainya adalah membina hubungan sosial dengan teman sebaya maupun dengan
orang dewasa selain dari guru dan orang tua. Remaja dapat berprestasi maksimal
dalam belajar jika ia diterima dan dikagumi dalam kelompok sebayanya dan mampu
memecahkan masalah sosial secara baik dengan orang dewasa terutama orang tua
dan orang-orang dewasa lainnya. Perlu disadari bahwa perkembangan kepribadian
remaja perlu dipahami oleh para guru maupun orang-orang yang bertugas mendidik
remaja, karena perkembangan kepribadian sangat penting untuk mengembangkan
prestasi belajar remaja.
B.
Rumusan Masalah dan Pertanyaan
1.
Apakah yang dimaksud dengan perkembangan
kognitif ?
2.
Bagaimana karakteristik perkembangan
kognitif masa remaja ?
3.
Bagaimana implikasi perkembangan
kognitif dalam pendidikan ?
C.
Tujuan
dan Manfaat Pembahasan
1.
Untuk mengetahui maksud dari
perkembangan kognitif.
2.
Untuk mengetahui karakteristik
perkembangan kognitif masa remaja .
3.
Untuk mengetahui implikasi perkembangan
kognitif dalam pendidikan.
D.
Metode
Pembahasan
Metode pembahasan yang
digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah studi literatur yaitu dengan
merujuk pada buku-buku diperpustakaan, jurnal dan internet.
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
A.
Perkembangan
Kognitif
Fatimah (2006:31) menyatakan bahwa
pada dasarnya, kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Hasil belajar ini
merupakan perpaduan antara faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Dari hasil
belajar yang diukur terus belajar ini, tingkat kognitif seorang individu dapat
diketahui. Test hasil belajar menggambarkan kemampuan kognitif yang bervariasi.
Variasi nilai tersebut menggambarkan perbedaan kemampuan kognitif tiap-tiap
individu.
Santrock (2007:52) menyatakan bahwa
teori Piaget berpendapat anak-anak secara aktif membangun pemahaman mereka
mengenai dunia dan melewati 4 tahap perkembangan kognitif. Tahap pertama, sensori
motor pada usia (lahir - 2 tahun) yang terjadi bayi membangun pemahaman
mengenai dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman sensorik dengan tindakan
fisik. Bayi mengalami kemajuan dari tindakan refleks sampai mulai menggunakan
pikiran simbolis hingga akhir tahap. Tahap kedua yaitu, praoperasional( 2-7
tahun) anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata dan gambar. Kata-kata dan
gambar ini mencerminkan meningkatkan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan
informasi sensoris dan tindakan fisik. Tahap ketiga yaitu, operasional konkret(
7-11 tahun) anak saat ini dapat bernalar secara logis mengenai
peristiwa-peristiwa kongkret dan mengklasifikasikan obyek-obyek kedalam bentuk-bentuk
yang berbeda. Tahap keempat yaitu, operasional formal (11-dewasa) remaja
bernalar secara lebih abstrak, idealis dan logis.
Yusuf(2012:195) menyatakan bahwa
ditinjau dari perkembangan kognitif mrnurut Piaget, masa remaja sudah mencapai
tahap oprasi formal (oprasi=kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan).
Remaja, secara mental telah dapat berfikir logis tentang berbagai gagasan yang
abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotetis dan
abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan maslah daripada berpikir
kongkret.
Sarwono(1989:76) menyatakan bahwa
keseluruan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta
mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Jadi, intelegensi memang
mengandung unsur pikiran atau rasio. Semakin banyak unsur rasio yang harus
digunakan dalam suatu tindakan atau tingkah laku, semakin berintelegensi
tingkah laku tersebut. Kita ambil contoh seorang anak kecil berumur empat tahun
sedang bermain di taman bunga. Ia melihat bunga-bunga berwarna-warni, lari
mengejar kupu-kupu, menciumi bunga-bunga itu, dan sebagainya. Tindakan-tindakan
itu masih berkadar intelegensi yang rendah karena unsur rasionya juga rendah.
Magta (2014) menyatakan bahwa
Mengingat perkembangan kognitif mempunyai peranan penting bagi anak karena
sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah
mengingat dan berpikir. Menurut Meggitt (2012:6), perkembangan kognitif (atau
intelektual) adalah perkembangan pikiran bagian dari otak yang dipakai untuk memahami,
mengetahui, menalar serta mengenai sesuatu. Kognitif sebagai kapasitas
kemampuan berfikir dan segala bentuk pengenalan, digunakan individu untuk
melakukan interaksi dengan lingkungannya. Menurut Piaget (dalam Sujiono dkk,
2007:3.5), perkembangan kognitif memliki empat aspek yaitu kematangan, pengalaman,
transmisi sosial dan ekuilibrasi. Perkembangan kognitif memiliki beberapa
tahapan perkembangan. Menurut Piaget (Sujiono dkk, 2007) melukiskan urutan
tersebut ke dalam empat tahap perkembangan yang berbeda secara kualitatif
yaitu: tahap sensori motor (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap
operasional konkrit (7-11 tahun) dan tahap operasional formal (11-16 tahun). Dari
setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak akan melalui ke
empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi karena masing-masing
tahapan dibangun di atas, dan berasal dari pencapaian tahap sebelumnya. Tetapi
sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubah-ubah, tidak mustahil adanya percepatan
seseorang untuk melewati tahap-tahap itu secara lebih dini di satu sisi dan
terhambat di sisi lainnya. Setiap tahapan perkembangan kognitif memiliki
karakteristik tersendiri. Menurut Sujiono, dkk (2007) karakteristik perkembangan
kognitif anak usia 5 – 6 tahun adalah mengelompokkan benda yang memiliki persamaan:
warna, bentuk atau ukuran, mengenali dan menghitung angka sampai 20, mengetahui
letak jarum jam untuk kegiatan sehari-hari, memperkirakan hasil realistis untuk
setiap cerita, menceritakan kembali buku bergambar dengan tingkat ketepatan
yang memadai, paham mengenai konsep arah: di tengah/di pojok dan kiri/kanan
mengklasifikasikan angka, tulisan, buah dan sayur. Proses perkembangan kognitif
dimulai sejak anak lahir. Dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan
yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah
yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan,
anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. Mengembangkan
kemampuan kognitif anak dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran
dan media yang inovasi, kreatif dan menarik bagi anak.
Ambara (2014) menyatakan bahwa Menurut
pandangan Piaget (dalam Djiwandono, 2004:73), perkembangan kognitif adalah
hasil dari hubungan perkembangan otak dan sistem nervous dan
pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk beradaptasi dengan
lingkungannya. kognitif juga dipandang sebagai suatu konsep yang luas dan
inklusif yang mengacu kepada kegiatan mental yang terlibat di dalam perolehan, pengolahan,
organisasi dan penggunaan pengetahuan. Proses utama yang digolongkan di bawah
istilah kognisi mencakup: mendeteksi, menafsirkan, mengelompokkan dan mengingat
informasi; mengevaluasi gagasan, menyimpulkan prinsip dan kaidah, mengkhayal kemungkinan,
menghasilkan strategi dan berfantasi. Tingkat pencapaian perkembangan kognitif
anak dibagi menjadi tiga yaitu pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk,
warna, ukuran dan pola, serta konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf. Ada
5 faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif.
Pertama, pembawaan. Dimana faktor ini
ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan
seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan.
Kedua, minat dan pembawaan yang khas. Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada
suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia
terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan
dunia luar, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk
berbuat lebih giat dan lebih baik. Ketiga, pembentukan. Dimana pembentukan
adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan
kognitif. Disini dibedakan antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan
disekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya pengaruh alam di sekitarnya.
Keempat, kematangan. Dimana tiap organ tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan
perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan
telah matang, jika ia telah tumbuh dan berkembang hingga mencapai kesanggupan
menjalankan fungsinya masing-masing. Kelima, kebebasan. Berarti manusia dapat
memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Disamping
kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Gustiana (2011) menyatakan bahwa Pada
masa kanak-kanak kemampuan motorik berkembang sejalan dengan perkembangan
kemampuan kognitif anak (Piaget :1952). Perkembangan kognitif merupakan sesuatu
yang penting dikembangkan sejak masa kanak-kanak (Yudha M Saputra &
Rudiyanto: 2005). Sejalan dengan pendapat para ahli di atas, Samsudin (2005:29)
mengungkapkan bahwa “Perkembangan kognitif dan perkembangan motorik secara
konstan berinteraksi, perkembangan kognitif lebih kuat bergantung pada
kemampuan intelektual proses interaksi”. Guru harus mengembangkan metode-metode
pembelajaran yang paling tepat bagi anak, khususnya guru taman kanak-kanak.
Pengembangan metode tersebut berdasarkan karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan anak, dimana para ahli sering menyebutnya dengan istilah DAP (Developmentally
Appropriate Practice). Perkembangan
kognitif terjadi melalui suatu proses yang disebut dengan adaptasi. Adaptasi
merupakan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan dan intelektual melalui dua
hal yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses anak dalam
menafsirkan pengalaman barunya yang didasarkan pada inteprestasi dunia anak
prasekolah. Akomodasi merupakan aspek kedua dari adaptasi, individu berusaha
untuk menyesuaikan proses adaptasi.
Chan(2014:online) menyatakan bahwa
perkembangan kognitif ialah perubahan kemampuan mental seperti belajar,
memori,menalar,berfikir,dan bahasa. Ada beberapa pendapat dalam mendiskripsikan
perkembangan kognitif, diantaranya adalah menurut Piaget perkembangan kognitif
seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak dapat mempengaruhi
perkembangan pengetahuan anak. Seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan
secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut,
tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara
aktif dilingkungan sekolah.
B.
Karakteristik
Perkembangan Kognitif Masa Remaja
Andi (2011:online) menyatakan bahwa Perkembangan
kognisi remaja mencapai tahap operasional
formal yang memungkinkan remaja berpikir secara abstrak dan
komplek, sehingga remaja mampu mengambil keputusan untuk dirinya. Selama masa remaja, kemampuan untuk
mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap. Masa remaja
adalah awal dari tahap pikiran formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan
sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan atau deduksi. Tahap ini
terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman mereka. Namun,
bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang menunjukkan bahwa kemampuan
remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar
dan pendidikan yang terkumpul.
Unsur
yang terpenting dalam mengembangkan pemikiran seseorang adalah latihan dan
pengalaman. Latihan berpikir, merumuskan masalah dan memecahkannya, serta
mengambil kesimpulan akan membantu seseorang untuk mengembangkan pemikirannya
ataupun intelegensinya. Piaget membedakan dua macam pengalaman,
yaitu :
1. Pengalaman fisis: terdiri dari tindakan atau aksi
seseorang terhadap objek yang di hadapi untuk mengabstraksi sifat-sifatnya.
2. Pengalaman matematis-logis: terdiri dari tindakan terhadap
objek untuk mempelajari akibat tindakan-tindakan terhadap objek itu.
Selain itu, unsur paling penting
dalam perkembangan pemikiran adalah mekanisme internal (ekuilibrium) sebagai self-regulasi
yang mengatur diri seseorang jika berhadapan dengan rangsangan atau tantangan
dari luar. Piaget juga menyebutkan adanya pengaruh afeksi dalam perkembangan
pemikiran seseorang yang berkaitan dengan kebutuhan untuk menentukan diri atau
membentuk motivasi yang kuat bagi intelegensi seseorang tersebut (Suparno,
2001).
Ada 5 perubahan perkembangan
kognitif anak remaja:
1.
Remaja
sudah bisa melihat ke depan (future) ke hal-hal yang mungkin, termasuk mengerti
keterbatasannya dalam memahami realita. atau sistem abstraksi, pendekatan dan
penalaran yang sistematis (logis-idealis), sampai ke berfikir hipotetis adalah
berdampak pada perilaku sosial, berperan dalam meningkatkan kemampuan membuat
keputusan.
2.
Remaja
mampu berfikir abstrak. Kemampuan ini berdampak dan dapat diaplikasikan dalam
proses penalaran dan berfikir logis.
3.
Remaja
mulai berfikir lebih sering tentang berfikir. Berfikir itu sendiri biasa dikenal dengan istilah
Metacognition, yaitu monitoring tentang aktivitas kognitifnya sendiri selama
proses berfikir, menjadikannya
instrospektif, terkait dengan adolescence egocentrism.
4.
Pemikirannya
lebih multidimensional dibandingkan singular
karena mampu melihat dari berbagai perspektif dan lebih sensitif pada
kata-kata sarkastik, sindiran “double entendres”.
5.
Remaja
mengerti hal-hal yang bersifat relatif, tidak selalu absolut dan sering muncul
saat remaja meragukan sesuatu dan ditandai dengan seringnya berargumentasi
dengan orang tua terutama tentang nilai-nilai moral.
Karakteristik Pemikiran Remaja
Berupa :
1)
Perkembangan
kognisi sosial : remaja mengembangkan suatu
egosentrisme
khusus, remaja yakin bahwa orangtua memperhatikan
dirinya
sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri.
2)
Rasa
unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorangpun dapat mengerti
bagaimana perasaan mereka sebenarnya.
Ada
beberapa ciri pemikiran praoperasional formal pada remaja :
a)
Abstrak : Mampu memunculkan
kemungkinan-kemungkinan hipotesis atau dalil-dalil dan penalaran yang
benar-benar abstrak.
b) Idealis
: Mulai berpikir tentang ciri-ciri
ideal bagi mereka sendiri, orang lain, dan dunia, dan membandingkan diri mereka
dengan orang lain dan standard-standard ideal ini.
c)
Logis : Mulai mampu
mengembangkan hipotesis atau dugaan terbaik akan jalan keluar suatu
masalah, menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji
pemecahan-pemecahan masalah secara sistematis.
Pada perkembangan kognisi remaja juga
dipengaruhi oleh pengambilan
keputusan yang berupa :
v
Remaja
cenderung menghasilkan pilihan-pilihan: menguji situasi dari berbagai
perspektif, mengantisipasi akibat-akibat dari keputusan-keputusan dan
mempertimbangkan kredibilitas sumber-sumber.
v
Remaja
perlu punya lebih banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan
pengambilan keputusan yang realistis.
Misal : Dalam pengambilan keputusan
oleh remaja mulai dari pemikiran, keputusan sampai pada konsekuensinya,
bagaimana lingkungannya yang menunjukkan peran lingkungan dalam membantu
pengambilan keputusan pada remaja.
C.
Implikasi
Perkembangan Kognitif Masa Remaja Dalam Pendidikan
Andi
(2011:online) Implikasi Karakteristik Remaja Terhadap Pendidikan. Lingkungan
sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Sekolah
selain memberikan fungsi
pengajaran juga fungsi pendidikan. Dalam kaitan pendidikan sekolah dalam
istilahnya ‘rumah kedua’ bagi siswa, merupakan tempat rujukan dan perlindungan
jika remaja mengalami masalah. Upaya-upaya yang dapat dilakukan pengajar
dalam hal memahami siswa sebagai sosok remaja, yaitu:
1. Membantu siswa
dalam menemukan jati diri dan menghadapi kegagalan
yang dihadapinya.
2. Emosi yang memuncak adalah karakteristik
dari remaja. Guru dapat membimbing remaja untuk pengendalian emosi
negative.
3. Mengajari cara
memahami orang lain dan toleransi merupakan cara guru dalam mendidik remaja.
4. Dengan
mempelajari berbagai karakteristik remaja akan sangat membantu siswa yang masih
dalam masa remaja, untuk keberhasilan proses pengajaran. Karena setiap remaja
berbeda,
maka guru mau
tidak mau harus bisa menjadi teman dan orang tua bagi remaja itu sendiri.
Diperlukan sikap polos, objektif terhadap siswa, adil dan
menunjukkan perhatian serta rasa simpatik dalam menghadapi remaja.
Implikasi
Perkembangan Kognitif dalam Pembelajaran
Implikasi tentang perkembangan kognitif menurut Bruner
dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Anak memiliki cara berpikir yang
berbeda dengan orang dewasa. Guru perlu memperlihatkan fenomena atau masalah
kepada anak.
2. Anak, terutama pada pendidikan anak
usia dini dan anak SD kelas rendah, akan belajar dengan baik apabila mereka
memanipulasi objek yang dipelajari, misalnya dengan melihat, merasakan,
mencium, dan sebagainya.
3. Pengalaman baru yang berinteraksi dengan
struktur kognitif dapat menarik minat dan mengembangkan pemahaman anak.
Perkembangan kognitif (intelektual)
Pada usia 12-20 tahun proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. Pada
usia 16 tahun berat otak sudah menyamai orang dewasa. Pada masa remaja terjadi
reorganisasi lingkaran syaraf Lobe frontal yang berfungsi sebagai kegiatan
kognitif tingkat tinggi yaitu kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau
mengambil keputusan. Lobe frontal ini berkembang sampai usia 20 tahun lebih dan
sangat berpengaruh pada kemampuan intelektual remaja, seperti halnya anak usia
12 tahun walaupun secara intelektual remaja tersebut berbakat namun belum
bijaksana.
BAB
III
ANALISIS
A.
ANALISIS
TEORITIS
Tingkat pencapaian perkembangan kognitif anak dibagi
menjadi tiga yaitu
pengetahuan
umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola, serta konsep bilangan,
lambang bilangan dan huruf. Ada 5 faktor yang mempengaruhi perkembangan
kognitif. Pertama, pembawaan. Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang
dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan
masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Kedua, minat dan pembawaan
yang khas. Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif
yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa yang
diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan
lebih baik. Ketiga, pembentukan. Dimana pembentukan adalah segala keadaan
diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan kognitif. Disini dibedakan
antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan disekolah dan pembentukan
yang tidak disengaja, misalnya pengaruh alam di sekitarnya. Keempat,
kematangan. Dimana tiap organ tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan
perkembangan.
B.
ANALISIS
PRAKTIS
Penerapan perkembangan
kognitif dapat menimbulkan pola pikir pada anak yaitu dapat berfikir lebih
kritis dalam pembelajaran, bertanggung jawab dalam tindakan, berfikir lebih
rasional dan dapat mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang ucapkan maupun
yang dilakukannya.
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN REKOMENDASI
A.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian
di atas penyusun memperoleh simpulan sebagai Perkembangan kognitif terdapat
empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring
pertambahanusia:
1).Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2).Pra-operasional (usia2-7tahun)
3).OperasionalKongkrit (usia7-11tahun)
4).OperasionalFormal (usia11tahunkeatas)
Implikasi
Karakteristik Remaja Terhadap Pendidikan. Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap
perkembangan jiwa remaja. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga
fungsi pendidikan. Dalam kaitan pendidikan sekolah dalam istilahnya ‘rumah
kedua’ bagi siswa, merupakan tempat rujukan dan perlindungan jika remaja
mengalami masalah.
B. Rekomendasi
1.
Kepada siswa : disarankan dalam
melakukan kegiatan pembelajaran lebih kreatif, efektif dan menyenangkan dengan
memperhatikan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga kemampuan
yang diperoleh benar-benar berkembang sesuai dengan taraf perkembangan
kemampuan anak.
2.
Kepada guru: disarankan lebih kreatif,
inovatif dan aktif dalam menyiapkan sarana media pembelajaran dan memilih model
pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran, sehingga prestasi belajar
siswa dapat meningkat.
DAFTAR
PUSTAKA
Ambara,Didith
Prambuditya.2014. Penerapan Metode
Bermain Berbantuan Media Gelombang Pintar Untuk Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini. e-Journal PG PAUD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 2 No. 1
Tahun 2014). Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha.
Singaraja, Indonesia
Fatimah,Enung.2006.Psikologi Perkembangan Peserta Didik.Bandung:Pustaka
Setia
Gustiana,Asep Deni.2011. Pengaruh
Prmainan Modifikasi Terhadapkemampuan Motorik Kasar Dan Kognitif Anak Usia Dini.EDISI KHUSUSno.2,agustus2011ISSN 1412-565
Magta,Mutiara.2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Stad Berbantuan Media Papan Pintar Untuk Meningkatkan Perkembangan Kognitif.
e-Journal PG-PAUD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Guru
Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 2 No 1 Tahun 2014). Universitas
Pendidikan Ganesha. Singaraja, Indonesia
Santrock,John
W.2007.Remaja Edisi 11 Jilid 1.Jakarta:Erlangga
Sarwono,Wirawan Sarlito.1989.Psikologi Remaja.Jakarta.Pt.Raja
Grafindo Persada
Yusuf,Syamsu.2012.Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja.Bandung:ROSDA
http:aurynchanll.blogspot.in/2014/01/.perkembangan-kognitif-remaja.html
terima kasih.
BalasHapussangat membantu sekali ^^
Fair Play Casino App Review - Find Casinos for Real Money
BalasHapusFairplay Casino 메리트카지노 App. Fairplay is a relatively 인카지노 new casino that offers a wide range of real money games, 샌즈카지노 offering players the chance to play with real money